19 April 2010

Pledoi Untuk DeJePe

Kubaca lagi headline pagi ini, ...... kembali berkisah tentang betapa bobroknya sistem dan “aparat” pajak yang ada di negeri ini. Setelah kisah sang manusia 28 miliar GT, sekarang muncul lagi sebuah megaskandal di surabaya yang katanya melibatkan aparat pajak dan merugikan negara hingga 300 miliar rupiah. Sebuah rentetan peristiwa yang sangat memilukan hati, ... bahkan sebuah media TV Nasional dalam tayangan editorial nya dengan jelas memberikan statement bahwa “Orang Pajak yang ke kantor naik motor, rumahnya biasa saja dan punya tabungan cuman puluhan juta. Maka kemungkinannya cuman dua, pertama dia itu pembohong atau gila”... sungguh sebuah pernyataan yang memiriskan hati.

Saya bukan ingin memberikan pernyataan yang menambah keruh situasi, atau berlagak sok bersih, tetapi mungkin lebih ingin memberikan gambaran yang lebih realistis dari kehidupan “orang pajak” dari sudut pandang yang lain. Saya mengenal banyak (sekali) orang pajak yang harus hidup dengan kondisi yang jauh dari apa yang diberitakan oleh media massa. Mungkin kisah hidup mereka dapat memberikan gambaran yang sedikit lebih realistis tentang apa sebenarnya yang dialami para pegawai pajak.

Mungkin saya mulai dengan kisah sepasang teman, yang keduanya sama-sama bekerja di direktorat jenderal pajak ! keduanya bertemu dan mengawali karir sebagai PNS di Direktorat Jenderal Pajak di sebuah kota di ujung utara pulau Sulawesi,  karir mempertemukan mereka di kota tersebut, menumbuhkan cinta diantara mereka dan akhirnya mereka pun menikah dalam suatu prosesi pernikahan yang sangat sederhana namun sangat khidmat. Setahun kemudian, mereka dikarunia seorang anak yang lucu.

Masih teringat jelas dalam ingatan ku, waktu itu aku ikut numpang makan malam ( maklum tanggal tua, hehehehe ....) di rumah kontrakan mereka yang sederhana namun asri. Sehabis makan, kami mengobrol di ruang tamu sekaligus ruang keluarga, sang teman bercerita bahwa ibu mertuanya sakit keras di kampung halamannya di jawa dan sang teman punya keinginan untuk mudik dan menjenguk sang mertua, apalagi semenjak pernikahan mereka, hampir dua tahun lalu memang belum pernah sekalipun mudik ke jawa, sang buah hati belum pernah bertemu dengan eyang nya. Namun, mereka dihadapkan pada dilema jika mereka naik kapal laut, maka otomatis waktu yang dibutuhkan akan sangat lama dan cuti mereka tidak cukup untuk perjalanan tersebut, sedangkan jika mereka naik pesawat maka tabungan mereka selama ini tidak mencukupi   .... ! Akhirnya kudengar kabar dari sang teman bahwa dia membatalkan niatnya untuk mudik, dan tabungan mereka berdua hanya ditransfer untuk keperluan berobat sang mertua. 

Saya juga teringat kisah seorang pegawai DJP yang bertugas di Samarinda, tetapi  keluarganya menetap di  Klaten Jawa Tengah. Dalam kisah yang diabadikan pada Buku “Berkah Modernisasi DJP” tersebut diceritakan bagaimana seorang ayah harus dihadapkan pada sebuah situasi yang sangat menyayat hati. Sang Anak terbaring lemah di rumah sakit, dan dia harus bertugas di tempat yang jauh. Keinginan untuk pulang sangat besar, tetapi kembali masalah biaya menjadi sebuah kendala. Singkat cerita akhirnya yang Maha Kuasa memanggil anak tersebut. Ayahnya yang bertugas di Samarinda akhirnya dapat pulang menjenguk sang anak, dengan bantuan biaya dari atasannya, tetapi karena perjalanan yang jauh Sang Ayah tidak dapat menghadiri pemakaman anaknya tercinta, yang dia dapati hanyalah sisa-sisa prosesi pemakaman, tenda di depan rumahnya pun belum dibongkar.

Ah, ... mungkin sudah terlalu banyak yang kutulis untuk postingan ini. Intinya aparat direktorat jenderal pajak bukanlah konglomerat yang memiliki segalanya, meskipun mereka hidup dengan kondisi yang lumayan mapan (untuk ukuran seorang PNS) tetapi seringkali masalah finansial tetap menjadi hal yang lumrah. Bahkan sebagian besar pegawai DJP masih berlangganan dengan yang namanya  Kredit Pegawai di Bank Mandiri atau BRI (hehehehe ......)

Memang DJP tidak menutup diri bahwa ada oknum nya yang “bermain nakal” dengan wajib pajak, namun yakinlah bahwa pajak yang anda bayarkan dan anda setorkan ke kas negara melalui mekanisme yang benar tidak akan bisa disalahgunakan oleh oknum pegawai pajak, sehingga gerakan "Boikot bayar pajak" yang saat ini sedang marak di facebook adalah sebuah gerakan yang sangat tidak beralasan, jika memang pencetusnya adalah seorang yang cinta akan bangsa nya seharusnya dia membuat gerakan "Bayar Pajak dengan Benar".  DJP saat ini sedang berbenah diri untuk menjadi sebuah institusi dengan layanan profesional, memang masih banyak kekurangan yang ada di sana-sini tetapi itu tidak menjadi bukti bahwa reformasi birokrasi di DJP telah gagal seperti yang dikatakan oleh banyak media. 

Untuk membuktikannya silahkan anda datang sendiri ke Kantor Pelayanan Pajak terdekat dan bandingkan pelayanan yang anda peroleh dengan institusi yang lain, ...... Saya yakin anda akan sepakat bahwa proses reformasi birokrasi di DJP sedang menuju ke arah yang benar, dan layaknya perjalanan yang lain, kerikil tajam akan selalu mewarnai. Tetapi yakinlah bahwa kerikil itu tidak akan mampu membelokkan arah perjalanan DJP ...

Coretan kecil ini mungkin tidak dapat mengimbangi pemberitaan media yang selalu menyorot kebobrokan DJP, tetapi paling tidak dapat menjadi sedikit pertimbangan bagi anda .....


3 komentar:

mr. Q mengatakan...

tetaplah berbuat dan bekarya untuk negeri ini....

anca mengatakan...

ulasan penting nih k...^^

eyilzone mengatakan...

asal kita jangan ikut ikutan nge Gayus kawan

Poskan Komentar

deedzTOGRAPHY © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute